Tampilkan postingan dengan label my short story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my short story. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2012

Dia Yang Takkan Pernah Terganti




Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.


Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya.


Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.


Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan….. di sanalah sumber ‘masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!


Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:


“Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena aku takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya … Saya minta maaf Dad … “


Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku … tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.


Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.


Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.


Namun… belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal….


Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku minta maaf, Dad”.


Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu…..


Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!


Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang… Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan …. tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.


Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : “Maaf, Dad”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.


Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?


Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk mommy…..”.


Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. …. tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?”


Jawaban anakku itu : “Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”.


Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ….


Aku bilang pada anakku, “Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.


Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur……


‘Mommy sayang’,


Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.


Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.


Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?


Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ….


Hargailah keberadaan kekasihmu, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena saat engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian, atau apa pun yg bisa menggantikan posisinya.

Senin, 19 Desember 2011

Jangan Merokok Lagi, Ma ...

                 Reni terduduk diatas kloset toilet Mall tempat kerjanya. Memandangi sebuah testpack bergaris merah dua ditangan kirinya. Hasilnya positif. Takut, bingung berkecamuk dihati. Tangan kanannya mencengkeram rambut panjangnya. Ia ingin menangis, tapi itu bukanlah pada tempatnya. Gadis dua puluh tahun itu segera memasukkan testpack kedalam tasnya dan bergegas keluar. Tangannya gemetaran . langkahnya sedikit dipercepat meski tak ada seorangpun yang sedang mengejar. Lalu langkahnya berhenti di Food Court, mengambil handphone disaku, menelpon seseorang yang pastinya ada kaitannya dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Beberapa kali panggilannya tidak terangkat, namun tanpa putus asa ia terus mencoba, sampai akhirnya seseorang disana mengangkat.
“Halo, Gerry, kamu dimana, sayang?” sapanya dengan nada cepat.

“Ditempat kos lah. Kenapa?” suara Gerry terdengar berat.

“Kamu lagi ngapain? Aku mau ketemu sama kamu, Ger. Ini penting!” intonasi Reni terdengar kacau.

“Ini baru bangun tidur. Mau ngomong apaan sih?” suara Gerry masih terdengar malas.

“Aku gak bisa ngomongin ini lewat telfon. Ini penting banget!”

“Iya, penting itu apa?!” Gerry setengah jengkel.

“Ger, aku hamil!” kata Reni sedikit melirihkan suaranya.

“Hah!!! Yakin kamu???”

“Iya, tadi aku udah cek pake testpack,”

“Trus mau kamu apa?”

“Iya kamu cowok gimana tanggung jawabnya?”

“Hah? Kamu yakin itu hamil sama aku?”

“Maksud kamu apa, Ger?!”

“Iya temen cowok kamu banyak, bisa aja kamu sama mereka,”

“Anjing kamu, Ger! Aku gak pernah ML sama siapapun selain kamu!”

“Yah mana aku tau? Bisa aja itu bukan anakku, lagian kita juga baru pacaran sebulan,”

“Anjing! Pokoknya kamu harus tanggung jawab, Ger!”

“Gak bisa gitu donk! Ogah gue mah, belom tentu juga itu anak gue!”

“Pokoknya aku tunggu kamu di Food Court Tunjungan Plaza sekarang. Kita harus ngomong, Ger,”

“Ah, apaan sih lo!”

Gerry menutup telfonnya. Telinga Reni tak mampu menerima pembicaraan dari telfon barusaja. Telinganya mengeluarkan suara ‘nguiiiiinnggg…’ mengalahkan suara hiruk pikuk Mall. Ia ingin menangis, tapi sekali lagi air matanya keluar tidak pada tempatnya. Sekarang yang dilakukan hanya menunggu Gerry. Maksud hati ingin langsung meluncur ke kos nya, tapi sialnya dia belum tau dimana kosan Gerry.

               Suasana Food Court sudah sepi pengunjung, tinggal beberapa karyawan yang mulai membereskan piring-piring bekas yang masih ada di meja. Ternyata Gerry memang tidak datang. Ditelfon pun handphonenya nonaktif. ia berlari. Menangis. Tak peduli dengan beberapa pasang mata karyawan yang tertuju padanya. Ini hidupnya. Tak peduli mereka bilang apa. Toh mereka juga tak peduli pada hidupnya.

*

               Masih ada separuh cairan yang tersisa dibotol Chivas Regal didepannya. Reni menuang lagi setengah gelas sloki besar ditangannya. Ia masih menangis. Entah tak pernah ia berhenti menangis setiap hari. Takut apa yang akan dikatakan pada orang tuanya didesa tentang kehamilannya.

“Sampe sekarang masih belom ada kabar dari Gerry, Ren?” tanya Bella, teman sekosnya.

“Belom. Anjing dia! Aku udah ketemu kosnya tapi kata temen-temennya dia udah balik ke Jakarta. Dasar anjing!” jawab Reni dalam tangisnya.

“Cowok emang anjing, Ren. Sabar aja,” Bella mengusap pundak Reni, “trus kamu maunya gimana?” wanita yang lebih tua dua tahun darinya itu memeluknya dari samping.

“Tauk lah, Bel. Aku udah coba semua jamu yang orang-orang bilang, aku juga udah cobain nanas muda, tapi belom ada hasilnya juga. Sementara ini udah 3 bulan jalan,” Reni semakin menangis.

Bella memeluk erat tubuh temannya yang tak pernah berhenti menangis. Sebenarnya ia tak ingin menberi saran yang buruk, namun ia tak tega dengan kondisi temannya yang sudah sekamar hampir 2 tahun. Dengan terpaksa ia memberi saran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, “Ren, aku punya temen yang pernah aborsi. Mungkin aku bisa tanya-tanya ke dia dimana tempatnya kalau kamu mau?” kata Bella pelan.

Reni terdiam. Lalu mengangguk pelan.

               Dipikirkannya saran Bella selama berjam-jam. Dihabiskannya malam dengan alkohol dan berbatang-batang rokok putih. Keegoisan dan hati nuraninya bertarung dalam otaknya. ‘Ini bukan salah bayi ini,’ batin Reni sambil mengelus perutnya yang sedikit lebih lebar dari biasanya. ‘Bukan keinginnannya juga untuk muncul diperutku, tapi apa kata orang didesa? Tapi dia anakku yang nggak ngerti apa-apa. Gimana aku bisa tega membunuh anakku sendiri?’ pikirannya berkecamuk. Begitu riuh renyah didalam sana. Masih dalam tangisannya disulut rokok putihnya yang tinggal sebatang.

*

               Reni berjalan-jalan ditempat pusat perbelanjaan. Ia melangkah menuju rak-rak yang berisi susu kaleng. Ia mengambil salah satu susu untuk ibu hamil. Kaleng susu dirumah yang ia beli 2 minggu yang lalu sudah habis. ia mengelus perutnya yang hampir 4 bulan. ‘Mama beliin buat kamu, sayang, biar kamu sehat,’ katanya dalam hati sambil tersenyum. ‘Terimakasih, Ma. Aku sayang Mama,’ Tiba-tiba reni terdiam, ia seolah-olah mendengar sebuah suara kecil dalam hatinya. Lalu ia melangkah lagi menuju kasir. Tangannya masih tak lepas dari perutnya, dibelainya dengan kasih sayang.

“Reni kamu beli apa?” seorang wanita berumur 40 tahunan menyapanya dari belakang antrian kasir.

Reni kaget bukan main ketika menyadari wanita itu adalah tetangga di kosnya, wanita itupun tak kalah kagetnya ketika melihat Reni memegang perut dan membawa susu kaleng. Reni terdiam, ia bingung apa yang harus ia jawab, begitu pula wanita itu.

“Aku mau pesen beras dulu yah, Ren,” kata wanita itu lalu buru-buru pergi dari hadapan Reni.

Reni masih terdiam. ‘Gawat! Pasti akan jadi gossip besar! Aku berarti harus siap cari kos-kosan baru!’ batin Reni.

               Tak pelak, keesokan harinya ia sudah jadi gunjingan tetangga. Semua tetangga memandang risih ketika ia lewat, bahkan ada beberapa yang langsung berkomentar buruk didepannya, “Amit-amit jabang bayi, anakku jangan sampe seperti itu, begitu kata mereka.

               Reni berbaring dikamar kosnya. Ia menangis lagi. Sakit rasanya. ‘Aku hanya ingin menebus dosaku dengan tidak membunuh anak ini, apa aku salah?’ katanya dalam hati. Namun sekali lagi ia mendengar suara kecil dari dalam hatinya, ‘Mama adalah orang terbaik dan tercantik dalam yang aku tahu. Mereka salah, Ma. Jangan menangis. Aku disini. Aku tahu mama adalah orang yang terbaik yang nantinya akan aku temui didunia,’ suara itu begitu nyata berbisik dihatinya. Reni tersenyum, lalu mengelus anaknya yang ada diperutnya.

“Ren, orang-orang kenapa kok pada tau kamu hamil?” tiba-tiba Bella menyeruduk masuk kekamar.

Reni bangkit dari pembaringannya. Lalu duduk dikursi menghadap jendela, dan menyulut rokok putihnya, “Pas aku beli susu kemaren, ketemu sama bu Wulan. Eh, ternyata sekarang udah nyebar beritanya. Cepet, yah?” kata Reni tersenyum kecut.

“Dasar emang emak-emak, gossip mulu kerjaannya!” ujar Bella sengit.

Reni menyulut rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam.

“Berarti akunudah harus siap-siap cari tempat kos baru, Bell, sebelum diusir mendingan pergi duluan,” kata Reni.

“Aku temenin kamu kemanapun kamu pindah, Ren. aku gak bakalan biarin kamu melahirkan sendiri,” kata Bella mengusap bahu sahabatnya.

Reni memeluk Bella, “Thanks, Bell,”.

“Ren, kamu hamil kok, ngrokokmu masih kenceng aja sih? Gak baik loh buat janin kamu,” kata Bella sedikit berintonasi tinggi.

Reni tersenyum lalu mengelus perutnya, namun tak juga ia matikan rokok ditangannya, “Gimana lagi, gak bisa putusin rokoknya, Bell,”.

“Yah, tapi gak baik, Ren,"  

Hati Reni kembali terdengar bisikan, ‘Ma, rokok itu apa? Kenapa setiap kali asap ini datang, badanku sakit semua? Sakit sekali, Ma, rasanya, tapi aku tetap coba bertahan agar bisa temenin Mama,’ Reni terdiam. Lalu ia mencoba mengalihkan pikirannya.

Reni terdiam memandang perutnya, lalu mengambil tangan Bella untuk mengelus perutnya.

“Ini tante Bella, sayang. Temen Mama yang paling baik,” Reni berbicara lirih kepada perutnya sendiri.

Bella tersenyum lalu ikut menyapa, “Halo, sayang, jadi anak baik, yah, seperti Mamamu,”.

Janinnya gusar berputar-putar, mungkin karena asap rokoknya, namun Reni tak pedulikannya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu digedor dengan keras. Reni segera mematikan rokoknya. Bella segera membuka pintu yang terdengar berisik. Ibu kos dan beberapa ibu lain yang berwajah culas sudah berdiri diambang pintu.

“Reni, kamu harus keluar dari tempat kos saya. Saya nggak mau ada orang nakal tinggal ditempat saya,” kata Ibu kos tegas dan dengan wajah antagonis ala sinetron.

“Iya, kita nggak mau anak-anak kita ketularan jadi perek kayak kamu!” kata salah satu dari yg lainnya yang wajahnya tak kalah antagonisnya.

Reni tersentak. Tapi ia hanya diam.

“Iya, bu. Ini kami juga udah siap-siap pergi dari sini, kok, tenang aja,” ujar Bella sengit.

“Iya, secepatnya, kalo bisa hari ini!” kata wanita berumur 50 tahunan itu dan berlalu.

“Dasar perek!” kata satu wanita sebelahnya dan ikut berlalu dengan wajah culas.

Bella menutup pintu kamar. Memeluk Reni yang terduduk menangis.

“Aku cuma berusaha berbuat baik dengan gak menggugurkan kandunganku, Bell. Apa aku salah?”.

“Udah, Ren, sabar. Kita pindah dari sini, cari tempat yang lebih baik,”.

Ditengah tangisnya, kembali Reni didengari bisikan kecil dari hatinya, ‘Ma, jangan nangis. Mereka hanya tidak tahu kalau Mama baik. Aku janji, nanti aku tidak akan buat Mama nangis. Aku janji, Ma,’ . Reni mengelus perutnya dan bangkit untuk berkemas.

*

               Reni mematikan rokoknya ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kos-kosan barunya. Ia hendak bangkit untuk membuka pintu. Tapi dengan segera Bella bangkit.

“Biar aku aja yang buka, Ren,” kata Bella.

Ternyata yang ada dibalik daun pintu itu adalah Gerry. Dengan wajah lelah Gerry berdiri diambang pintu, matanya langsung tertuju pada Reni yang juga terkejut melihatnya. Bela menatap Gerry dan Reni bergantian. Tanpa ba-bi-bu, Gerry menerobos masuk dan berlutut dibawah Reni.

“Ren, aku minta maaf. Aku minta maaf saat itu aku ninggalin kamu,” katanya menangis dikaki Reni.

Reni terdiam. Kaku. Tak mampu berkata apa-apa. Antara sedih, bahagia, benci melebur menjadi satu menggangu pernafasannya. Hanya air matanya yang berbicara.

“Ren, aku datang kesini buat tanggung jawab, Ren. aku mau nikahin kamu, aku nggak sayang kamu, juga anak kita,” kata Gerry masih berlutut dalam tangisnya.

Reni masih terdiam dan tangisnya semakin memburu. Bella pun tak kalah menangisnya. Segera ditutupnya pintu kamar membiarkan mereka berdua.

Reni menjunjung Gerry untuk bangkit dari kakinya. Lalu memeluk Gerry.

“Sudah berapa bulan anak kita, Ren?” tanya Gerry sambil membelai perut Reni.

“Udah empat bulan jalan, Ger,” kata Reni ikut membelai perutnya.

“Beberapa hari lagi orang tuaku datang keSurabaya, Ren. buat nemuin orang tuamu diMalang. Kita harus segera menikah,” Gerry mencium kening Reni.

Reni tersenyum dengan air matanya, lalu mengangguk. Ia memegang tangan Gerry yang menempel diperutnya.

“Ini papa, sayang. Papa datang buat temuin kamu, kamu seneng kan?” kata Reni kepada perutnya sendiri.

“Papa sayang kamu, sayang,” Gerry duduk dihadapan Reni dan mencium perut Reni.

Untuk kesekian kalinya Reni mendengar suara kecil dihatinya, ‘Papa pasti cakep dan baik. Sama seperti Mama. Aku bahagia punya Papa dan Mama yang baik hati,’.

*

               Pagi itu perut Reni terasa mulas, panas, dan janinnya berputar-putar. Reni gelibekan, keringat dinginnya keluar.

“Ren, kamu kenapa?” tanya Bella gelisah.

“Gak tau, Bell, sakit banget!” Reni menangis menahan sakitnya.

“Ini kan masih empat bulan jalan, masa udah lahiran. Aku antar kedokter, yah?” kata Bella khawatir.

Reni mengangguk.

“Kamu sih, Ren. hamil, gak pernah control ke dokter sama sekali,”

“Ntar tolong telfonin Gerry, Bell,”

“Iya,”

               Gerry melajukan mobilnya kencang menuju rumah sakit terdekat. Menembus hujan deras yang mengguyur kota Surabaya sejak beberapa hari ini. Tibaah mereka dirumah sakit umum Kota Surabaya. Reni segera digiring menuju Unit Gawat Darurat. Namun sebelum Reni tertidur karena obat bius dokter, Reni sempat mendengar suara kecil dihatinya, 'Mama, aku minta maaf. aku sudah mencoba bertahan buat temenin Mama. tapi asap rokok yang Mama masukkan dalam tubuh Mama buat aku sakit, buat aku kepanasan. Aku selalu mencoba kuat, agar nantinya aku bisa melihat Mamaku yang cantik dan baik, dan papa juga. Maaf, Ma, maaf, Pa. aku kecewain Mama yang sudah sayang sama aku. Ma, berhenti merokok ya, Ma . Biar suatu saat nanti, kalo aku punya adik, dia nggak akan ngerasa kesakitan dan kepanasan kayak aku. aku sayang Mama ...” lantas suara itu hilang begitu saja.

Sepersekian detik kemudian Reni sudah tak sadar, namun hatinya menangis. ia merasa telah kehilangan anaknya. Dan hatinya berjanji untuk tidak akan menyentuh rokok lagi sampai kapanpun .

***

Sabtu, 17 Desember 2011

The Boy and The Apple tree


A long time ago, there was a huge apple tree. A little boy loved to come and play around it everyday. He climbed to the treetop, ate the apples, took a nap under the shadow. He loved the tree and the tree loved to play with him. Time went by, the little boy had grow up and he no longer time played around the tree everyday.
One day, tho boy come back to the tree and he looked sad .
“Come and play with me,” the tree asked the boy.
“iam no longer a kid, I do not play around trees anymore,” the boy replied, “I want toys, I need the money to buy them,”.
“Sorry, I have no money, but you can pick all my apples and sell them. So, you will have money,” the tree apple’s said.
The boys was also excited and grabbed all the apples on the three and left happily. The boy never come back after he pick all the apples. The tree was sad.
               One day, the boy who now turned into a man returned and the tree was excited.
“Come on, play with me,” the tree said.
“I don’t have time to play. I have to work for my family. We need the house for shelter. Can you help me?” ask the man.
The tree said, “Sorry, I don’t have any house. But you can chop off my branches to buil your house,”.
So, the man chop off the tree’s branches and left happily. The tree was glad to see him happy, but the man never come back since then. The tree was again lonely and sad.
               One hot summer day, the man return and the tree was delighted.
“Come on, play with me,” ask the tree
“Iam getting old. I want to go sailing to reax my self. Can you give me a boat?” said the man.
“Use my trunk to build your boat. You can sail far away and be happy,” the tree said.
So the man cut the tree’s trunk to make a boat. He went sailing and never showed up for a long time.
               Finnaly, the man returned to many years.
“Sorry my boy, but I don’t anything for you anymore. No more apples for you to sell, no more branch for your house, and no trunk for you make a boat…” the tree said with sad feeling.
“No problem. I don’t have any teeth to a bite. I was have a house for my family, and I too old for sailing anymore,” the man said.
“I really cant give you anything. The only thing left is my dying roots,” the tree said with tears.
“I don’t need much now, just a place to rest. Iam tired after all these years,” the man replied.
“Good! Old tree roots are the best place to lean on the rest. Come, come! Sit down with me and rest,” said the old tree.
The man sat down and the tree was glad and smiled with tears …

This is a story of everyone. The tree’s like our parents. When we were young, we loved to play with our Mum’s and Dad’s. when we grow up we leave them. Sometimes we forget them with our busy and only come to them when we need something and when we have a trouble. But, no matter for our parents, they always be there and give everything they could just to make us happy.

Kamis, 13 Oktober 2011

Sedikit Cerita Tentang Cinta



 Ada seorang gadis yang bertanya kepada kekasihnya . "Apa sih yang bikin kamu cinta sama aku," . Si kekasih menjawab, "Aku tidak tahu" . Tapi gadis itu terus mendesak dengan pertanyaan itu, "Kok bisa nggak tahu sih ?! Pacar temenku aja bisa jawab waktu temenku tanya pertanyaan kayak gitu" . Lalu kekasihnya menjawab, "Oke . Aku jawab . aku cinta kamu, karena kamu cantik, anggun, dan perhatian" .
 Beberapa hari kemudian gadis itu mengalami kecelakaan, dan terluka parah . Dan saat terbangun dari komanya, ia menemukan surat dari sang kekasih, "
isinya :


Sayang,
kamu pernah meminta padaku untuk menjawab pertanyaanmu, apa yang membuatku sayang padamu . Dan saat itu aku menjawab, aku mencintaimu karena kamu cantik . kini lihatlah dirimu, apakah kamu masih secantik dulu? Dulu aku menjawab aku mencintaimu karena kamu anggun . Sekarang lihatlah dirimu, apa kamu masih mampu berjalan dengan anggun? Dulu aku juga mengatakan kalau aku mencintaimu karena kamu perhatian . Sekarang bagaimana? untuk memperhatikan dirimu sendiri saja kamu membutuhkan bantuan orang lain . maka hilang sudah rasa cintaku padamu .
Sayangku,
Aku akan meningalkanmu saat ini jika aku mencintaimu memang dengan alasan-alasan tersebut .
Namun karena sejujurnya sejak awal aku mencintaimu tanpa harus ada alasan, maka sampai saat ini aku masih mencintaimu . Apapun yang terjadi aku masih mencintaimu . seperti dulu .
Yang harus kamu mengerti, sayangku . Cinta itu tidak pernah membutuhkan sebuah alasan untuk mencintai . Karena cinta itulah alasannya kenapa harus mencintai ..
I love you,