Sabtu, 12 November 2011

Doa Jatuh Cinta


Ya Allah ...
When I falling in love,
Keep this love to not exceed my love to You ...
Ya, Allah,
When I say, "I Love U", lead me to tell to him that his heart adrift to You...
So, this love is not fall in a love that's not because of You ...



Ya Allah ...
Ketika aku jatuh cinta,
Jagalah cinta ini agar tidak melebihi cintaku padamu ...
Ya Allah,
Ketika aku berucap, "Aku cinta padamu", tuntunlah aku tuk katakan kepada yang hatinya tertaut padamu...
Agar cinta ini tidak jatuh dalam cinta yang bukan karenamu ...

Little Poem from the Novel 666


Rasa itu menghacurkan kesendirian ini,
tapi tidak dengan keterasingannya,
dan telah menyeka kesepiannya,
walau hanya sesaat,
hati bicara ...
Hati berbicara ...
Sekali lagi aku terikat dengan Ruh Malam dan Ruh yang mencakp Maha Ruh ...
yang membawakan untuknya setetes cahaya dari sebuah gerbang :
Gerbang cahaya yang abstrak dan berkabut biru,
yang telah memenggalnya untuk kehampaan dan ke alpaan sesaat ...
walau sesaat,
kadang terlihat jelas-kadang terlihat samar dan semu,
memudar,
dan pada akhirnya tak tampak ...

Best Friend

examples of friendship is Spongebob and Patrick. because after all they are in trouble and difficulty, however they have a fight, however they are separated, in the end will remain to be best friends ...







"Best friend is a who walked approached when all the world get away"
"Sahabat adalah dia yang mendekat ketika seluruh dunia menjauh"
"Meilleur ami est un qui marchait aproche quand tout le monde s'en tirer"
"Mejor amigos es un que camio acercaron cuando todo el mundo salir"
(Friends Movie)

Cerita Tentang Keisha



“Bundaaa ... Keisha badannya panas banget, nih!” Kefia berlari kearah ibunya yang sedang menikmati kopi panasnya diberanda rumah.
“Bunda, Keisha badannya panas banget sejak pulang dari sekolah tadi!” Kefia mengulangi kata-katanya lagi setelah berada dihadapan ibunya.
Ibunya terdiam. Matanya menatap raut wajah Kefia yang tampak gelisah. Lalu arah matanya kebawah. Masih terdiam, menyelam dalam pikirannya sendiri.
“Bunda kok diem aja, sih? Keisha sakit, bun!” kata Kefia semakin panik.
Ibunya menatap kembali wajah anak sulungnya itu. Mengelus rambut gadis berumur 16 tahun yang ada didepannya.
Lalu Kefia menarik tangan ibunya, “Keisha ada dikamar, Bun”.
“Iya, kamu tunggu disini aja, biar Bunda yang kasih obat,” kata wanita setengah baya itu lalu menutup pintu kamar Kefia.

*

“Hey, Sha, jangan tidur dulu, donk! Aku mau cerita nih!” kata Kefia mengguncang tubuh Keisha.
“Mau cerita apa, sih?” Keisha lalu bangkit dari pembaringannya, mengusap-usap matanya yang sempat tertutup beberapa menit yang lalu.
“Sha, aku baru ditembak cowok!” kata Kefia bersemangat.
“Oyah? Trus-trus kamu terima?” tanya Keisha jadi ikutan semangat.
“Iya, donk! Cowok cakep masa disia-siain!” tukasnya.
“Siapa-siapa?” Keisha menggucang-guncang lengan Kefia.
“Ummm... Rahasia!” Kefia tersenyum genit.
“Ihhh... kok pake rahasia-rahasiaan, sih? Gak asik, ah!” kata Keisha kesal lalu kembali tidur.
“Yeee... marah nih ceritanya? Ntar kamu juga tau sendiri, kok,” Kefia masih senyum-senyum.
Lalu Keisha bangkit lagi dari baringnya, dan berkata, “Eh, aku juga lagi falling in love loh!” katanya dengan mata mengerling.
“Sama siapa-sama siapa?” Kefia ganti mengguncang lengan Keisha.
“Rahasia!” balas Keisha lalu kembali merobohkan badannya ketempat tidur.
“Ayo, donk, cerita siapa?”
“Kalo gitu kamu cerita dulu, siapa yang abis nembak kamu?”
“Oke, aku kasih tau, deh ...”
“Gitu, donk!”
“Yang baru jadian sama aku tuh, Darius!”
“Hah? Darius?”
“Iya”
Keisha terdiam sesaat. Matanya menerawang, lalu melihat kearah Kefia yang senyum-senyum sendiri.
“Wah, congratulations, yah, sista” kata Keisha setengah tersenyum.
“Iya, sista. Makasih, yah! Nah, sekarang gentian kamu yang cerita!”
“Hihiihi! Aku loh cumin bo’ongin kamu aja, biar kamu cerita!” Keisha tertawa.
“Ih, dasar!” Kefia memukulkan guling kearah Keisha . lalu Keisha balik memukulkan bantal pada Kefia.

*

“Siang, tante!” sapa Maya dan Evi saat bepapasan dengan Ibu Kefia diruang tengah.
“Siang, sayang,” balas ibu Kefia sambil mengaduk secangkir kopi.
“Kita kekamar Kefia dulu yah, Tan,” kata Maya.
“Silahkan, sayang, Kefia ada didalam, kok,”.
Lalu Maya dan Evi berlarian naik tangga dan berebut masuk setelah membuka pintu kamar Kefia.
“Kef, baca apa’an tuh?” kata Evi yang berhasil membuat Kefia terjingkat.
“Nih, besok kan ada ulangan Biologi!” Kefia mengangkat buku Biologinya hingga kedua temannya dapat melihat sampul bukunya.
“Dari mana aja, kok masih pake seragam sekolah?” tanya Kefia.
“Dari rumah Jody, kan rumahnya ada dibelakang blokmu, tau gak?”jawab Maya sambil merogoh tas sekolah merah mudanya, “Nih!” Maya melempar cokelat yang berhasil ia temukan.
Kefia menangkap lemparan cokelat itu, “Thanks!”.
“Eh, Kef, katanya kamu punya sodara kembar? Mana tuh?” tanya Evi.
“Iya, siapa tuh namanya?” tambah Maya.
“Namanya Keisha. Dia belom pulang sekolah, maklum lah ketua osis, jadi yah sibuk banget,” jawab Kefia lalu menggigit cokelat ditangannya.
“Yaaah, tiap kesini musti dia gak ada dirumah, padahal kita pengen banget kenalan,” kata Evi.
“Kalian gak jodoh kali sama Keisha...” jawab Kefia enteng.
“Ini foto baru, yah?” tanya Maya saat melihat figura kuning di meja rias.
“He’em,”
“Ini mana yang kamu, mana yang Keisha?” tanya Maya lagi.
“Liat-liat!” Evi menyahut figura ditanga Maya.
“Yang kiri aku, yang kanan Keysha,” Kefia menunjuk satu persatu dari dua orang yang ada difigura foto itu.
“Kok fotonya sendiri-sendiri, sih?” tanya Maya asal.

*

“Sayang, Bunda mau kerumah eyang. Jadi entar malem Bunda nggak pulang,” kata Ibu Kefia sambil mengusap-usap rambut Kefia.
“Sampai berapa hari, Bun?”
“Paling-paling besok sore udah pulang. Bunda cumin ambil KTP, kok, habis perpanjang KTP,”
“Keysha udah dikasih tau, Bun?”
Ibunya terdiam. Lalu tersenyum, dan mengangguk.

*

“Keishaaaa !!!” Kefia menjerit ketika membuka pintu dan mendapati keadaan Keisha.
“Keisha, kamu kenapa, Kei! Bangun, dek!” Kefia mengguncang-guncang tubuh Keisha yang sudah dingin tak berisi.
“Kenapa kamu lakukan ini, dek?” Kefia menangis memeluk tubuh adiknya yang sebagian sudah basah oleh darah yang keluar dari urat nadi yang terpotong dipergelangan tangan.
Ia melihat sekeliling kamar. Tak ada sesuatupun yang bisa menolongnya. Ibunya pun masih belum pulang. Ia melihat selembar kertas disebelah Keisha. Ia buru-buru mengambil, lalu membacanya.
Kefia sayang ...
Maaf aku harus ninggalin kamu. Aku udah nggak tahan sama semuanya. Aku iri sama kamu, Kef. Kamu cantik, punya semuanya, dan lebih disayang Bunda. Terlebih lagi saat aku tahu ternyata Darius lebih cinta sama kamu, padahal aku lebih dulu kenal dan cinta sama dia dari pada kamu. Tapi aku lebih cinta sama kamu, dari pada sama Darius. Aku coba ikhlasin semuanya. Tapi aku nggak tahan. Maaf Kefia.
With love-Keisha

       Kefia semakin menangis. Ia memeluk erat tubuh Keisha yang sudah kosong. Ia menangis-menangis-dan terus menangis.

*

“Kefia, kamu sudah makan, sayang?” tanya ibunya.
Kefia tidak menjawab. Tatapannya kosong. Ibunya menatap wajah anaknya yang terdiam dengan harapan dan keputus asaan. Dari sudut mata ibunya keluar butiran bening yang saling susul menyusul. Seorang gadis berumur dua puluh lima tahunan yang berdiri dibelakannya memegang pundaknya.
“Ibu, sabar. Semua butuh proses. Ibu harus yakin kalau Kefia bisa sembuh,”kata gadis itu. Namanya Niken, psikiater yang merawat Kefia.
“Ada apa sebenarnya dengan anak saya, Dok?”suara wanita itu melemah.
“Kefia mengalami gangguan dalam pikirannya yang disebut Indigo. Ia berfikir bahwa ia mempunya saudara kembar yang bernama Keisha. Sampai-sampai ia bisa berbicara dengannya. Padahal pada saat itu, dia sedang melakukannya sendiri,” jelas Niken.
“Kefia memang sering kali menyebut nama Keisha,” gumam ibunya lirih.
“Dan terakhir Kefia melihat banyangan Keisha yang bunuh diri akibat dirinya. Dan meninggalkan surat. Padahal Kefia sendiri yang telah menulis surat itu. Lalu Kefia merasa bersalah pada dirinya sendiri,” lanjut Niken.
“Mungkinini salah saya juga. Sejak Kefia berumur lima tahun, saya dan ayahnya bercerai. Lalu saya sibuk bekerja, hingga tidak bisa menemani Kefia bermain,”
“Ya, sudah lah. Sekarang ibu harus yakin kalau Kefia pasti bisa sembuh. Hanya perlu kesabaran saja,”.

*

Viera Ali At Peneleh Samantary Surabaya






Photograph by, Ganang Pamungkas

Jumat, 11 November 2011

Komik yang Bikin Gila !



























Surat Nasehat Mendiang Charlie Chaplin untuk Putri Tercinta


Charlie Chaplin adalah seorang aktor komedi inggris multi-talent yang sangat terkenal dalam sejarah Hollywood di era film hitam putih.

Selain berakting Chaplin juga memiliki kemampuan menyutradara, menulis naskah, sekaligus mengisi ilustrasi musik di film-film produksinya sendiri. Masa kecilnya yang dekat dengan kemiskinan dan kemelaratan tidak lantas menjadikannya patah semangat.

Chaplin kecil pernah tinggal di rumah penampungan orang miskin, bekerja untuk imbalan makan dan tempat berteduh di kawasan Lambeth, London. Bersama saudara perempuannya Sydney Chaplin, Chaplin berjuang bahu-membahu agar bisa bertahan hidup.

Di usianya yang sangat dini Chaplin sudah mulai berakting dari panggung ke panggung dalam pertunjukan komedi Music Hall.

Sampai kemudian Chaplin bergabung dengan kelompok komedi slapstik Fun Factory di bawah asuhan Fred Karno, yang membawanya mengenal seorang produser film bernama Mack Sennett yang terkesan dengan akting Chaplin.

Sennett lalu mengontrak Chaplin untuk bermain dalam film-film yang diproduksi studio Keystone Film. Boleh dikatakan inilah awal karir Chaplin di dunia perfilman sekaligus mengenal teknik pembuatan film.

BEGINILAH ISI SURAT CHAPLIN KEPADA PUTRINYA

Geraldine putriku, aku jauh darimu, namun sekejap pun wajahmu tidak pernah jauh dari benakku. Tapi kau dimana? Di Paris di atas panggung teater megah… aku tahu ini bahwa dalam keheningan malam, aku mendengar langkahmu. Aku mendengar peranmu di teater itu, kau tampil sebagai putri penguasa yang ditawan oleh bangsa Tartar.
Geraldine, jadilah kau pemeran bintang namun jika kau mendengar pujian para pemirsa dan kau mencium harum memabukkan bunga-bunga yang dikirim untukmu, waspadailah.
Duduklah dan bacalah surat ini… aku adalah Ayahmu. Kini adalah giliranmu untuk tampil dan menggapai puncak kebanggan. Kini adalah giliranmu untuk melayang ke angkasa bersama riuh suara tepuk tangan para pemirsa.
Terbanglah ke angkasa namun sekali-kali pijakkan kakimu di bumi dan saksikanlah kehidupan masyarakat. Kehidupan yang mereka tampilkan dengan perut kosong kelaparan di saat kedua kaki mereka bergemetar karena kemiskinan. Dulu aku juga salah satu dari mereka.
Geraldine putriku, kau tidak mengenalku dengan baik. Pada malam-malam saat jauh darimu aku menceritakan banyak kisah kepadamu namun aku tidak pernah mengungkapkan penderitaan dan kesedihanku.
Ini juga kisah yang menarik. Cerita tentang seorang badut lapar yang menyanyi dan menerima sedekah di tempat terburuk di London.
Ini adalah ceritaku. Aku telah merasakan kelaparan. Aku merasakan pedihnya kemiskinan. Yang lebih parah lagi, aku telah merasakan penderitaan dan kehinaan badut gelandangan itu yang menyimpan gelombang lautan kebanggaan dalam hatinya.
Aku juga merasakan bahwa urang recehan sedekah pejalan kaki itu sama sekali tidak meruntuhkan harga dirinya. Meski demikian aku tetap hidup.
Geraldine putriku, dunia yang kau hidup di dalamnya adalah dunia seni dan musik. Tengah malam saat kau keluar dari gedung teater itu, lupakanlah para pemuja kaya itu.
Tapi kepada sopir taksi yang mengantarmu pulang ke rumah, tanyakanlah keadaan istrinya. Jika dia tidak punya uang untuk membeli pakaian untuk anaknya, sisipkanlah uang di sakunya secara sembunyi-sembunyi.
Geraldine putriku, sesekali naiklah bus dan kereta bawah tanah. Perhatikanlah masyarakat. Kenalilah para janda dan anak-anak yatim dan paling tidak untuk satu hari saja katakan: “Aku juga bagian dari mereka”.
Pada hakikatnya kau benar-benar seperti mereka. Seni sebelum memberikan dua sayap kepada manusia untuk bisa terbang, ia akan mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu.
Ketika kau merasa sudah berada di atas angin, saat itu juga tinggalkanlah teater dan pergilah ke pinggiran Paris dengan taksimu.
Aku mengenal dengan baik wilayah itu. Di situ kau akan menyaksikan para seniman sepertimu. Mereka berakting lebih indah dan lebih menghayati daripada kamu.
Bedanya di situ tidak akan kau temukan gemerlap lampu seperti di teatermu. Ketahuliah bahwa selalu ada orang yang berakting lebih baik darimu.
Geraldine putriku, aku mengirimkan cek ini untukmu, belanjakanlah sesuka hatimu. Namun ketika kau ingin membelanjakan dua franc, berpikirlah bahwa franc ketiga bukan milikmu.
Itu adalah milik seorang miskin yang memerlukannya. Jika kau menghendakinya, kau dapat menemukan orang miskin itu dengan sangat mudah. Jika aku banyak berbicara kepadamu tentang uang, itu karena aku mengetahui kekuatan ‘anak setan’ ini dalam menipu…..
Geraldine putriku, masih ada banyak hal yang akan aku ceritakan kepadamu, namun aku akan menceritakannya di kesempatan lain.
Dan aku akhiri suratku ini dengan,
“Jadilah manusia, suci dan satu hati, karena lapar, menerima sedekah, dan mati dalam kemiskinan, seribu kali lebih mudah dari pada kehinaan dan tidak memiliki perasaan”.