Minggu, 02 Desember 2012

Proses Terjadinya TENAGA DALAM

Pada dasarnya setiap orang memiliki apa yang disebut dengan tenaga dalam, hanya saja mereka tidak mengetahui bagaiman cara membangkitkan atau mengembangkannya. Tenaga dalam itu sudah ada sejak manusia dilahirkan. Tetapi tenaga itu masih pasif dan sewaktu-waktu akan bangkit bila orang tersebut dalam keadaan panik, tidur berjalan, terhipnotis atau ketakutan yang luar biasa.
Manusia memiliki unsur kimia tubuh (Body Chemistry) yang bernama ATP (Adenosin Tri Phosphate). ATP ini dapat berubah menjadi energi melalui proses metabolisme tubuh. Secara sederhana dapat ditulis sbb :
O2 + ATP + Glikogen Energi
ATP berfungsi sebagai energi cadangan. Misalnya, setelah kita berolahraga dan kecapaian kemudian bila diistirahatkan sejenak maka tubuh kita akan pulih kembali. Energi yang dihasilkan oleh ATP dalam keadaan sehari-hari berupa panas tubuh, membantu lancarnya penyaluran adrenalin, menghidupkan kimia tubuh untuk membentuk kekebalan tubuh (zat antibodi), menghidupkan aktifitas pencernaan dan menghidupkan semua aktifitas organ dalam tubuh manusia. Berdasarkan penelitian, manusia dalam kehidupan sehari-hari hanya menggunakan sekitar 2,5% dari seluruh fasilitas energi tubuhnya. Sedangkan yang 97,5% lainnya tersembunyi sebagai cadangan di ulu hati.
Permasalahannya adalah bagaiman cara mengoptimalkan dan membangkitkan energi yang tersimpan itu agar dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia jika mampu meningkatkan kekuatannya sebesar 0,1-0,3% (sehingga menjadi 2,6-2,8%) dapat membunuh seekor kuda dalam sekali pukul atau dapat mematahkan lima batang kikir baja yang ditumpuk, memecahkan batu kali pun bukan halangan bagi yang memiliki tenaga dalam.
Tenaga dalam atau energi cadangan adalah suatu energi yang berpusat pada syaraf-syaraf di sekitar ulu hati dan setelah dibangkitkan akan berkumpul pada salah satu bagian tubuh yang disebut dengan solar plexus atau kundalini. Menurut berbagai sumber,kundalini merupakan bagian dari tubuh manusia yang berbentuk 31⁄2 lingkaran, terdapat diantara tulang ekor dan kemaluan di bawah pusar. Bentuknya seperti ular yang sedang bergulung atau melingkar. Jadi dalam hal ini perlu dijelaskan bahwa sumber tenaga dalam adalah ulu hati, bukan solar plexus seperti anggapan orang selama ini. Padahal solar plexus adalah tempat berkumpulnya energi cadangan tersebut setelah dibangkitkan.
Solar Plexus/Chakra
Satu-satunya jalan ialah dengan cara mengubah pernafasan biasa menjadi pernafasan spesial, yaitu dengan mengoptimalkan oksigen yang masuk jangan sampai terbuang percuma sedangkan untuk bagian lain harus seimbang. Untuk membangkitkan energi cadangan secara cepat, oksigen harus diputarkan secara cepat pula ke seluruh tubuh dan membuang gas beracun CO2 secara cepat. Karena itu, saat membuang nafas badan harus dikejangkan. Dengan pengejangan tubuh, oksigen akan berputar membentuk pusaran energi yang menyerap seluruh energi di tubuh yang tersebar dan tersembunyi. Sedangkan pembuangan gas beracun dilakukan dengan cara membuang nafas melalui mulut. Bila kedua hal tersebut dilakukan maka oksigen yang berputar di dalam tubuh kita adalah oksigen bersih tanpa CO2. Ini salah satu rahasia juga, mengapa orang-orang yang mempelajari tenaga dalam secara benar selalu sehat dan jarang sakit.
Fungsi dari tenaga dalam;
1. Tenaga fisik menjadi jauh lebih kuat
2. Untuk mempertajam panca indera.
3. Untuk membangkitkan indera keenam.
4. Untuk menghancurkan benda-benda keras.
5. Untuk meringankan tubuh.
6. Untuk memperkuat memori otak.
7. Untuk meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh terhadap serangan fisik dan serangan penyakit.
8. Untuk memperkuat benda lemas.
9. Untuk Telekinetik/menggerakkan benda dari jarak jauh


Jumat, 30 November 2012

Penjelasan Kesurupan Secara Ilmiah



Individu dan Kelompok sekuler, skeptik dan liberal yang tidak percaya adanya setan dan jin percaya kalau kesurupan hanyalah masalah mental dan fisik.

Sedikit yang mencoba mendalami lebih jauh masalah ini. Tapi apakah hal ini memiliki basis di kenyataan?
Kesurupan bagi mereka disebabkan oleh:
1.      Gangguan otak, seperti sindrom Gilles de la Tourette, epilepsi, gangguan identitas disosiatif atau
2.      Penyakit mental, seperti schizophrenia, psikosis, histeria, mania, atau
3.      Orang yang otaknya kurang lebih sehat tapi sayangnya tersedot dalam permainan peran sosial dengan konsekuensi yang sangat tidak nyaman, seperti remaja yang hanya dapat mengatakan hal-hal tabu jika ia kesurupan
Ada satu jenis kesurupan yang tidak terlalu akrab kita dengar, yaitu kesurupan teritualisasi. Gangguan otak dan penyakit mental mungkin dapat menjelaskan kenapa seseorang bisa kesurupan tiba-tiba, tapi bagaimana dengan orang yang ingin kesurupan, melakukannya lewat ritual, dan akhirnya benar-benar kesurupan?

Kesurupan yang disengaja

Profesor Michelle Crepeau mengajukan hipotesis adanya CPG atau Central Pattern Generator di otak manusia. CPG adalah bagian yang bertanggung jawab atas I-function, atau ke-saya-an. Saat kemasukan, CPG menjadi padam. Tindakan ritual yang dilakukan, misalnya oleh dukun, untuk menjadi kesurupan sesungguhnya adalah sebuah mekanisme untuk memadamkan CPG di dalam otaknya.
Solusinya adalah eksperimen, bukan semata pengamatan. Melakukan eksperimen bukanlah hal yang mudah karena konteks dari ritual kesurupan yang religius.
Seorang pakar psikologi dan ilmu syaraf dari Jepang, Manabu Honda, telah melakukannya bersama rekan-rekan penelitinya tahun 2000. Beliau melakukan eksperimen dalam upacara adat di Bali yang disebut Kerauhan. Banyak orang sehat disini mengalami kerasukan. Ia sudah pernah di dokumentasikan lewat film oleh Margaret Mead dan Gregory Bateson, namun keberadaannya belum terbukti secara ilmiah. Honda dan teman-temannya mencoba mendekati masyarakat Bali untuk melakukan eksperimen ini.
Bagaimana mungkin orang Jepang bisa mendapat kepercayaan masyarakat Bali untuk mengukur gelombang otak mereka saat mereka kerasukan? Bukankah ini ritual adat yang suci? Mengesankannya, Honda dan rekan-rekannya membangun kepercayaan ini selama lebih dari sepuluh tahun! Akhirnya masyarakat mempercayai mereka untuk mengakses para subjek yang ikut serta dalam upacara adat ini.
Honda dan kawan-kawannya menggunakan sistem telemetri Elektro Encephalogram  (EEG) multi channel portabel untuk mengukur gelombang otak dari 24 orang-orang yang kesurupan saat upacara adat ini. Mereka berhasil untuk pertama kalinya menunjukkan kalau fungsi otak ternyata berubah menjadi tidak biasa saat seseorang kerasukan. Kekuatan pita gelombang otak theta dan alpha dari orang yang kesurupan ternyata meningkat secara signifikan. Gelombang ini tetap tinggi selama beberapa menit setelah mereka sadar dari kesurupan.
Bukan hanya itu, mereka yang kesurupan memiliki tingkat konsentrasi beta-endorphin, dopamine dan noradrenalin yang tinggi. Ketiga zat ini merupakan narkotika endogen, artinya narkotika yang dibuat oleh otak sendiri.
Honda dan kawan-kawannya menyimpulkan kalau kondisi ini diaktifkan oleh suara alunan gamelan Bali yang mengandung beberapa sinyal yang tak terdengar tapi dapat memacu kerja syaraf.
Penelitian Honda dan rekan-rekannya menunjukkan kalau setidaknya, kesurupan tipe ritual merupakan semacam hiburan seperti halnya dansa atau musik dimana orang terlarut di dalamnya. Sayangnya, eksistensi dari ke-saya-an yang diajukan Crepeu masih kabur.
Fenomena kesurupan tampak sebagai sifat kebudayaan manusia yang universal dan ditemukan di setiap benua dan setiap waktu. Sebagai contoh, Bourguignon (1973, 1976) melakukan survey pada 488 kelompok masyarakat, dan menemukan kalau 90% nya memiliki bentuk pola budaya yang memuat kondisikesadaran berubah. Keyakinan pada kesurupan sebagai masuknya jiwa lain ke dalam tubuh ditemukan dalam 74% sampel dan ritual kesurupan ditemukan dalam 52% sampel.

Kesurupan yang tidak disengaja

Lebih sulit lagi untuk melakukan eksperimen untuk kerasukan yang tidak ritualistik, seperti kesurupan massal mendadak yang sering terjadi di SMP kita. Ia tidak terduga kapan datangnya. Kesulitan ini membutuhkan kerjasama antara antropolog dan ahli syaraf yang sayangnya masih sulit dilakukan. Di satu sisi, para antropolog umumnya hidup di daerah terpencil yang minim teknologi. Di sisi lain, para ahli syaraf umumnya hidup di daerah modern yang kaya teknologi modern. Langkah ini baru saja dicoba untuk di jajaki pada awal abad ke-21.
Jika neurologi dan antropologi kesulitan, bagaimana dengan psikologi? Dua orang psikolog dari Singapura, Beng-Yeong Ng dan Yiong-Huak Chan baru saja berhasil menentukan faktor-faktor psikosial yang menyebabkan seseorang dapat mengalami kesurupan. Mereka melakukan wawancara mendalam terhadap 58 orang pasien yang pernah mengalami kesurupan dan membandingkannya dengan 58 pasien yang mengalami depresi berat. Mereka menemukan kalau orang yang sering mengalami kesurupan adalah orang yang memiliki masalah dalam isu agama dan budaya; terpaparkan pada kondisi trans (kesurupan disengaja) dan memiliki peran sosial sebagai seorang rohaniawan atau pendamping seorang rohaniawan.
Penelitian oleh Albert C Gaw dan kawan-kawan di China membenarkan kondisi ini. Mereka menambahkan data mengenai apa yang terjadi saat seseorang kesurupan. Berdasarkan wawancara terhadap 20 orang yang pernah kesurupan mereka memperoleh data sebagai berikut : 19 kehilangan kendali atas tindakan, 18 mengalami perubahan perilaku atau bertindak berbeda, 12 kehilangan kesadaran atas sekelilingnya, 11 kehilangan identitas pribadi, 10 kehilangan kemampuan membedakan antara kenyataan dan fantasi, 10 mengalami perubahan nada suara, 9 mengalami perhatian yang tidak fokus, 9 mengalami kesalahan dalam menilai, 8 mengalami kesulitan berkonsentrasi, 7 kehilangan kemampuan menilai waktu, 7 kehilangan ingatan, 6 kehilangan kemampuan merasa sakit dan 4 percaya kalau dirinya berubah ujud.
Dilihat dari agen yang merasuki, sembilan dirasuki oleh orang yang telah meninggal, lima oleh dewa/mahluk ghaib yang baik, empat oleh roh hewan, dan 2 oleh setan. Satu tidak tahu siapa yang merasukinya. Lima melaporkan dimasuki oleh lebih dari satu agen. Satu percaya kalau ia dirasuki oleh beberapa orang yang telah meninggal, yang lain percaya kalau ia dirasuki oleh lebih dari satu mahluk halus seperti dewa baik dan setan yang memasuki dirinya serentak. Gaw et al bahkan menambahkan bukti dari luar sampelnya kalau di China, seseorang bahkan bisa kesurupan benda mati, seperti batu dan kayu.
Peneliti Indonesia, Luh Ketut Suryani, dan seorang peneliti barat, Gordon D Jensen menyimpulkan kalau fenomena kesurupan memiliki analog paling sesuai dengan fenomena MPD (Multiple Personality Disorder).  Perbedaannya, kesurupan sangat erat kaitannya dengan kebudayaan. Hal ini bisa dibilang berlaku pula pada MPD, karena fenomena MPD terjadi di satu kebudayaan saja, yaitu kebudayaan barat. Dengan kata lain, MPD adalah salah satu contoh fenomena yang melatarbelakangi kesurupan pula.
Gaw et al menggabungkannya dalam satu istilah: penyakit atribusi. Penyakit atribusi ini termasuklah susto di Amerika Latin dimana seseorang merasa dirinya sangat ketakutan, hwa-byung dari Korea dimana seseorang merasa dirinya sangat marah, dan kesurupan dimana seseorang merasa dirinya dimasuki mahluk asing.
Gregory P Garvey menyarankan kalau kesurupan sebenarnya sama saja dengan latah. Kami telah membahas tentang latah sebelumnya. Dan latah terjadi tergantung kebudayaan. Satu hal yang sama antara latah dan kesurupan, keduanya lebih sering terjadi pada wanita dari latar belakang pendidikan yang rendah.
Dan kembali, ia menjadi sebuah masalah psikologis yang masih belum dipahami dengan jelas, kecuali dengan pemberian istilah baru agar terlihat ilmiah. Gangguan disosiatif istilahnya.
Walau begitu, basis ilmiah dari dugaan tersebut memiliki dasar yang kuat,. Setidaknya ada tujuh jenis gangguan syaraf yang dapat diasosiasikan dengan kesurupan yang tidak disengaja. Gangguan Syaraf ini antara lain :
1. Sindrom Gilles de la Tourette = Sebuah penyakit kerusakan otak yang dicirikan dengan keluarnya kata-kata tabu secara tidak terkendali dan begitu mudahnya orang tersebut mengulangi kata-kata orang lain (latah) serta gerakan yang tak terkendali. (Bacaan lanjut : Netsains)
2. Epilepsi = Sebuah penyakit yang disebabkan pelepasan listrik berlebihan di otak dan dicirikan kejang mendadak (sawan).
3. Gangguan Identitas Disosiatif = Disebut juga Kepribadian Ganda (MPD). Kemungkinan disebabkan oleh perubahan arah aliran darah di otak atau volume hippocampus dan amygdala yang kecil di otak. Dicirikan perubahan kepribadian seseorang menjadi orang dengan identitas berbeda.
4. Schizophrenia = Perbedaan kimiawi otak yang berakibat pada pecahnya hubungan  antara kemampuan kognitif dengan emosional. Akibatnya penderita tidak memiliki basis logika untuk tindakannya. Walaupun emosinya tidak dapat diprediksi, seorang schizo dapat sangat cerdas karena kemampuan kognitifnya tidak dipengaruhi oleh emosi.
5. Psikosis = Kerusakan otak / penyalahgunaan narkotika yang berakibat pada pecahnya hubungan antara dunia nyata dan imajinasi. Merupakan gejala paling umum ditemukan di masyarakat. Seseorang dapat merasa dirinya di dunia nyata padahal sedang berkhayal, begitu juga sebalinya.
6. Histeria = Reaksi emosional negatif atau ketakutan berlebih yang semakin menjadi-jadi, baik secara individu maupun massal. Hal ini disebabkan kesamaan pengalaman terutama trauma yang terjadi pada kelompok (jika massal) atau munculnya pemicu ingatan terhadap trauma di masa lalu. Paling banyak terjadi pada perempuan.
7. Mania = Reaksi emosional positif atau kegembiraan berlebih yang semakin menjadi-jadi. Tidak diketahui apakah dapat bersifat massal atau tidak. Pemicu utama mania adalah insomnia atau kesulitan tidur.
Kesurupan yang tidak disengaja tampaknya dapat dijelaskan berdasarkan salah satu dari tujuh gejala syaraf di atas atau kombinasi di antaranya. Bila kita telah mampu menyelidiki penyebab neurologis atau genetik seseorang yang mengalami kesurupan, terutama saat kesurupan tersebut terjadi, maka kita dapat memberikan urutan ke-8 atau semata meletakkan kesurupan dalam salah satu dari tujuh gangguan di atas.

Kesimpulan

Kita telah banyak belajar mengenai faktor-faktor gender, pendidikan, dan psikososial yang mempengaruhi kesurupan, perasaan yang timbul saat kesurupan, zat kimia dan pola gelombang otak yang muncul saat kesurupan dan metode untuk menyebabkan seseorang kesurupan (walaupun hanya berupa ritual spesifik budaya, bukannya metode ilmiah universal). Walau begitu, kita masih belum punya teori yang menjelaskan bagaimana proses neurologis yang membuat kesurupan dapat terjadi. Termasuk kategori apakah ia dalam klasifikasi penyakit kejiwaan dan mungkinkah kita mampu mensimulasikannya di laboratorium (seperti pada fenomena keluar dari tubuh). Tentang pertanyaan apakah orang yang kesurupan memang dirasuki mahluk halus, kita tidak ada bukti yang membutuhkan penjelasan yang melibatkan mahluk halus. Bukti-bukti ilmiah dari psikologi, ilmu syaraf, antropologi dan kedokteran masih  mampu untuk menjelaskan kesurupan sebagai fenomena alamiah manusia. Ataukah frase ‘sudah mampu’ lebih pantas dipakai daripada ‘masih mampu’? Itu kembali dari posisi awal kita di awal artikel ini. Jika anda sekuler, skeptik atau liberal, frase ‘sudah mampu’ tampaknya lebih cocok dipakai.
Referensi
3. Iga Dwi Sanjaya Putra. 2010. ‘Kerauhan’, Sugesti dalam Balutan Religi
4.    Kawai N, Honda M, Nakamura S, Samatra P, Sukardika K, Nakatani Y, Shimojo N, Oohashi T (2001)Catecholamines and opioid peptides increase in plasma in humans during possession trances.Neuroreport 12:3419-3423.
5.    Oohashi T, Kawai N, Honda M, Nakamura S, Morimoto M, Nishina E, Maekawa T (2002)Electroencephalographic measurement of possession trance in the field. Clin Neurophysiol 113:435-445.
6.    Oohashi T, Nishina E, Honda M, Yonekura Y, Fuwamoto Y, Kawai N, Maekawa T, Nakamura S, Fukuyama H, Shibasaki H (2000) Inaudible highfrequency sounds affect brain activity: hypersonic effect. J Neurophysiol 83:3548-3558.
7. Stefano Ferracuti; Roberto Sacco. 1996. Dissociative Trance Disorder: Clinical and Rorschach Findings in Ten Persons Reporting Demon Possession and Treated by Exorcism. Journal of Personality Assessment, Volume 66, Issue 3 June 1996 , pages 525 – 539
8.    Bourguignon, E. (Ed.). (1973). Religion, altered states of consciousness, and social change. Columbus, OH: Ohio University Press.
9.    Bourguignon, E. (1976). Possession. Prospect Hills, IL: Waveland Press
11. Bourguignon E and Peitay L. Transcult Psychiatr Res (New Series) 2, 13±15 (1965).
12. Wikipedia. 2010. Spirit possession
13. Beng-Yeong Ng, Yiong-Huak Chan. 2004.Psychosocial stressors that precipitate dissociative trance disorder in Singapore. Australian and New Zealand Journal of Psychiatry. Volume 38, Issue 6, pages 426–432, June 2004
14. Luh Ketut Suryani, Gordon D. Johnson. 1994. Trance and Possession in Bali: A Window on Western Multiple Personality, Possession Disorder, and Suicide. Oxford University Press
15. Dissociation and Second Life: Pathology or Transcendence? Gregory P. Garvey 10th Annual Planetary Collegium Interna’onal Research Conference
16. Simon Baron?Cohen, The Short Life of a Diagnosis, The New York Times, 11/10, 2009
17. Kim LI: Psychiatric care of Korean Americans, in Culture, Ethnicity, and Mental Illness. Edited by Gaw AC. Washington, DC, American Psychiatric Press, 1992
18. Trance Research. 2009. A Brief Bibliography on Trance
21. Robert T Carrol. 1994. Skeptic’s Dictionary: Exorcism.




Nenek dan Abu Dalam Guci



Nenek dan Abu Dalam Guci
            Pagi itu adalah hari istimewa bagi seorang Nenek berusia 71 tahun yang tinggal seorang diri dirumah kayu peninggalan suaminya. Setiap pagi yang selalu ia lakukan adalah me­nyapa foto yang ada disebelah ranjang kayu yang sudah mulai lapuk. Foto dirinya dan sang suami tercinta. Foto itu seolah-olah memberinya semangat . Tangan pucat dan keriput itu merapa kaca pigora kayu cokelat dengan tulisan dibawahnya “Crish & Laura”. Ia menyentuh senyum diwajah sang suami, menciptakan sesungging senyum terangkat di pipi wanita beruban itu. Lantas ia meletakkan kembali pada tempatnya dan mengambil dompet kulit milik suaminya dulu yang didalamnya terisi oleh beberapa lembar dollar, uang sisa kiriman anaknya, dan ia beranjak untuk pergi berbelanja. Tak pernah lupa, tangannya memasukkan sebuah guci bening yang berada disebelah foto tadi kedalam tasnya kemanapun ia melangkah pergi, tas pemberian suaminya di ulang tahun pernikahan emas.
*
            Mathew mengamati wajah Sara, begitu pucat, lalu berhenti di mata bulatnya. Mata itu basah, sudah benar-benar habis semangat yang ada didalam sana.
“Selamat hari Valentine, sayang,” Mathew berusaha berbicara tegar kepada istrinya yang sudah terlihat seperti mayat hidup.
Mathew menggenggam tangan Sara yang tampaknya berusaha menggapai tangannya namun tak sanggup. Tersungging senyum kecil dengan usaha yg cukup kuat diwajah Sara. Ia tahu, Istrinya bisa kapanpun meninggal karena kanker otak yang dialaminya 2 tahun terakhir ini, maka setiap hari dan setiap detik ia berusaha untuk memberi yang terbaik untuk istrinya. Dan hari ini adalah hari Valentine, ia ingin memberi sesuatu yg istimewa untuk istri yang sudah dinikahinya selama 8 tahun diumurnya ke 19 tahun. Tapi ia sudah tak memiliki cukup uang lagi untuk membeli apapun, bahkan untuk membeli makanan sehari-hari ia juga harus susah payah mencari, dan mereka juga berhenti melakukan pengobatan setelah beberapa tahun pengobatan yang menghabiskan banyak uang namun tak memberi hasil yg terang. Tapi ia terus berusaha mencari jalan keluarnya.
“Sayang, aku keluar sebentar, ya, aku akan kembali secepatnya,” kata Mathew lantas mencium kening wanita berambut pirang yang sudah menipis dan terbaring ditempat tidur.
Wanita berumur 26 tahun itu menatap mata suaminya dalam-dalam, seakan ada suatu kekhawatiran didalamnya.
*
            Laura melangkah hati-hati turun dari trotoar tepat dibawah lampu penyeberangan. Penghitung detik lampu hijau untuk penyeberang jalan masih puluhan detik lagi. Hari ini adalah hari spesial. Bukan karena hari ini adalah hari Valentine, semenjak suaminya meninggal dalam tidurnya 3 tahun yang lalu, Laura tak pernah lagi mengingat hari Valentine. Tapi hari ini adalah hari pernikahannya yang ke 54. Dan dengan sengaja ia memasak Tortilla kesukaan suaminya. Setiap ulang tahun pernikahan, mereka selalu memasak bersama untuk makanan khas Amerika Utara itu. Tanpa sadar ia mengangkat jemari tangannya dimana dijari manis itu melingkar cincin kawin mereka. Lalu ia tersenyum lemah. Tanpa ia sadari dari kejauhan ada seorang laki-laki berumur hampir 30 tahunan sedang mengamati gerak-geriknya. Laki-laki berambut ikal cokelat keemasan itu perlahan menghampirinya diam-diam.
*
            Mathew mengamati seorang nenek berumur 70 tahunan yang berada dibawah lampu penyeberangan. Nenek berambut pendek penuh uban itu sedang membawa tas belanja ditangan kanannya dan tas kecil berwarna pink ditangan kirinya. Tas situ terlihat mahal dengan logamnya yang masih berkilau. Dia berfikir pasti disana terdapat lembaran dollar yang bisa membeli beberapa keperluannya selama beberapa hari. Berkali-kali terbesit dalam fikirannya untuk merampas tas itu dari nenek tua yang terlihat sangat lemah, lantas berlari sejauh mungkin. Namun sekali lagi hati nurani nya berkata untuk jangan melakukannya. Pikiran-pikiran itu berputar-putar diotaknya. Terlalu rumit untuk diputuskan, namun ia sangat mencintai istrinya, ia ingin memberi semua yang terbaik untuk istrinya yang mungkin bisa saja besok sudah meninggal. Ia segera bergerak mendekati wanita tua itu. Dengan cepat tangannya menarik tas yang ada dibahu kiri wanita tua yang sedari tadi diamatinya. Namun tak seperi yang ia pikirkan sebelumnya, wanita itu langsung dengan kuat mempertahankan tasnya. Terjadilah adegan tarik-menarik untuk sepersekian detik. Ia melihat tangan wanita itu merogoh kedalam tasnya. Ia berfikir, pasti ia mengambil dompet yang ada didalamnya. Ia mencegahnya dengan menggoyang-goyangkan kasar pergelangan tangan wanita pemilik tas itu, tapi wanita tua itu bersikeras. Dan tampaknya bukan dompet yang ia cari sedari tadi, tapi sebuah benda bening yang tak berarti. Beberapa wanita setengah baya disekitar sudah berteriak-teriak “perampokan!” seorang wanita juga ada yang memukul-mukul punggungnya dengan tasnya. Mathew hendak berlari tanpa tas itu, namun wanita tua itu sudah melepaskan genggamannya dari tas pink nya. Lalu Mathew berlari sekuat tenaga berlari ditrotoar dengan tas pink digenggaman tangannya, menerabas pejalan kaki lainnya. Dan lari nya berakhir pada batasan trotoar dimana terdapat pertigaan jalan raya dan sebuah mobil kencang melintas tepat dihadapannya. Tersungkur, pandangannya semakin kabur, penafasannya terasa berat, pikirannya kosong sejenak, lalu hanya ada Sara istrinya yang tergambar berbaring diranjang menunggunya, Sara yang nantinya sebagai hadiah Valentine akan ia belikan obat-obatan dari resep yang ia simpan namun belum ia beli tanpa ada biaya, Sara yang tanpa ia tahu sudah pergi untuk selamanya beberapa menit yang lalu.
Beberapa orang mengerumuninya, lalu belasan orang, dan puluhan orang, namun dalam pandangannya mereka benar-benar sudah gelap. Dan disusul oleh polisi yang berjongkok disebelahnya.
Genggamannya pada tas itu kian melemah, dengan susah payah ia berucap tanpa ada kata keluar, “Sara, aku mencintaimu,”.
Lantas polisi tak bisa lagi mendeteksi nafas dan denyut nadi ditubuhnya.
*
            Laura menggenggam guci yang ada didalam tas pink nya. Tas kado ulang tahun pernikahan terakhir dari suaminya kini sudah dirampas orang. Yang tersisa dari dalam tas itu hanya guci dengan kaca bening yang ia genggang sekarang. Tulang kepala tua nya terbentur tiang lampu penyeberangan jalan dengan sangat keras saat ia melepaskan genggamannya dari tas yang direbut perampok muda itu. Seorang wanita setengah baya mendekat, mengangkat kepala Laura yang tergeletak ditrotar, menyandarkan kepala Laura pada lengannya.
“Aku sudah memanggilkan ambulans, Bu, sebentar lagi mereka akan datang,” kata Wanita berambut coklat lurus itu.

Laura sudah tak mampu berkata apapun, benturan itu cukup keras untuk wanita tua sepertinya. Ia hanya balas tersenyum lalu berusaha memeluk dengan erat guci ditangannya tadi. Angin jalanan meniup rambut tipisnya. Rasanya begitu ringan, terasa ringan seperti dilahirkan kembali. Depan matanya terlihat sinar yang menyilaukan, samar-samar terlihat siluet orang yang sangat ingin ia jumpai . Siluet itu mendekat perlahan, menutup sinar silau yang tadi ada dihadapannya . Lalu perlahan silauan itu meredup-meredup, dan gelap. Lalu kosong.
‘Chris, aku merindukanmu’ rintihnya dalam hati.
Lantas ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan guci berisi abu jenazah Chris, suaminya dalam pelukannya.

***

50% fiksi, 50% true story

Hukuman Sang K-Pop



HUKUMAN  SANG  K-POP

               Ya ampuuuunnn… Nih orang pagi-pagi stel tipi kenceng banget, sih! Masih jam delapan pula! Ya’elah, K-Pop pula lagunya!
“Hadoooohhhh, aku bettle nih pake Khasmir, mampus!”
               Aku mkengambil MP4 mini biru, langsung sambungin ke salon kecil tapi manteb yang dipasang bunda di kamarku. Niat nya mau tidur lagi, tapi berisik juga, hufffttt… repotnya hidup dijaman K-Pop!
“Nduuukkk!” suara bunda dibalik pintu, malas-malasan aku berjalan menuju pintu.
“Apa, Bun?”
“Kamu pagi-pagi nyetel lagu beginian, gak berisik apa? The Beatles, kek, Abba, kek, berisik tau!”
“Sebelah rumah juga nyetel lagu K-Pop kenceng banget, sebel, Bun!”
“Iya, sih. Bunda juga masa tertarik sama lagu kayak gitu,”
“Lah maka dari itu,”
“Ya, kamu juga jangan ikutan nyetel lagu yang kenceng juga!”
“Iya-iya,”
               Terpaksa mengalah. Sedihnya. Tak apa lah. Ganti puter lagu Coldplay, Bunda juga suka, pasti gak ngomel. Tapi teteeep, volume harus tak terkalahkan!

*

               Kampus yang panas! Sepertinya kulitku sudah berubah jadi tempe yang tak perlu digoreng lagi. Mana pada berisik pula, nyanyi-nyanyi gak jelas.
“lagu apa’an sih?” tanyaku pada teman sebelah.
“Hah? Nggak tau? Aduuuh, kemana aja kamu, nenk” cewek berambut pirang karena cat rambut itu mulai sok tau.
Oke, aku memang gak tau, tapi aku yakin itu lagu ala K-Pop yang sekarang lagi kebetulan booming.
“Ini lagunya keresbelle!” lanjutnya lagi.
Nah loh, bener kata hati ku tadi!
“Ooo, keresbelle, aku tau itu. Yang personilnya gondrong-gondrong berkumis semacam Queen kan?” kataku asal.
“Hmmm… selalu deh!” sahutnya sewot, jadi pengen bikin dia lebih sewot lagi.
“Bukan kayak Queen, ya? Ato kayak Krush gitu?”
“Ah, tau ah!” kata Miss Korea itu sewot.
Yesss!!! Berhasil!!! Akhirnya dia sewot beneran!!!

*

               Tugas beres semua, sekarang tinggal dengerin Little Wing aransemen nya SRV, biar adem otakku . Suara gitarnya khas banget, seakan-akan sengaja senarnya dikendorin, ato apalah, gak faham aku, yang pasti suara gitar SRV itu sensual banget! Tiba-tiba suara sebelah rumah nyetel lagu pake bahasa Korea berdisko!
“Bussseeettt!!! Demam K-Pop banget nih tetangga!” kataku dengan suara keras.
Apa sih yang bikin mereka suka? Secara ya, bahasa aja udah pasti mereka gak tau artinya,bahkan nama-nama artisnya aja susah banget dilidah kita ngucapinnya. Cowok cakep itu yang bisa maen gitar kayak Jimmy Page ato main bola kayak Kaka, bukan yang joget-joget keroyokan dipanggung kayak mau tawuran! Astaga! Itu bukan music Indonesia. Musik Indonesia itu kayak Iwan Fals, Slank, Gigi, Peterpan, kenapa jadi rusak ke music Korea gini sih? Padahal Indonesia juga pnya musisi legend di dunia, Tielman Brother, tapi kenapa masih sedikit yang apresiasi? Ya Ampuuunnn…
“Aku Bettle lagi nih sama Dragonforce, mumpung Bunda gak ada dirumah! Come’on Uncle Herman Lee, Destroy them!”

*

               Tumben nih, pagi-pagi gak ada yang nyetel lagu K-Pop kenceng-kenceng? Tiap pagi kayak begini kan nyaman dikuping.
               Aku berjalan menuju ruang makan . Melewati ruang tengah dimana Bunda lagi asik-asiknya nonton infotaiment pagi. Beliau menoleh ketika mendengar langkahku.
“Nduk, ini loh, Ariel udah bebas,”
“Loh, iya tah?”
“Iya, kapan hari. Ini lagu baru nya keluar, bagus, nduk. Bunda download kan, ya?”
“Udah dengerin, Bunda?”
“Udah, tadi diputer disini. Nama band barunya Noah,”
“Oke, Bunda!!! Secepatnya download!!!”
               Syukurlah, Tuhan. Akhirnya Ariel keluar dari penjara. Musik Indonesia segera terselamatkan. Siap-siap ya buat K-Pop bakal hilang bau nya dari peradaban. Peterpan adalah Coldplay dan Oasis nya Indonesia. Welcome Noah, save our music right now! Berilah hukuman untuk sang K-Pop!

*

Bintang yang kita lihat



Kenapa bintang itu terlihat sangat kecil dari bumi ? itu ya karena letak bintang dengan bumi sangat jauh. 
bintang itu sesungguhnya adalah benda langit yang berukuran raksasa, yang berisi gas sedang terbakar dahsyat. bintang adalah bola api raksasa yg sedang menyala - nyala dengan suhu jutaan derajat . Berapakah jaraknya sehingga keliatan sangat kecil ? perlu anda semua ketahui bintang yang terdekat dengan bumi saja berjarak 8tahun cahaya. artinya cahaya saja membutuhkan waktu 8tahun untuk sampai ke bumi.. padahal kecepatan cahaya itu 300.000 km/detik.
Jadi jaraknya berapa kilometer (km)?. Kalau cahaya membutuhkan 8 tahun untuk sampai ke bumi, berarti jaraknya = 8 tahun x 365 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik x 300.000 km/detik =75.686.400.000.000 kilometer (km) atau sekitar 75 triliun kilometer. Sungguh jarak yg tak pernah terbayangkan oleh kita.
Mari berhitung lagi, semuanya bergantung pada pesawat yang kita gunakan. Misalnya, kita naik pesawat ulang alik seperti Challenger atau Columbia yang kecepatannya 20.000 km/h. Berapa lamakah kita sampai ke bintang tersebut? Sehari, seminggu, sebulan, setahun, seabad. kita bakal mati di tengah jalan, ternyata kita belum sampai bintang yang paling dekat itu aja kita sudah mati. setelah 428 tahun kemudian, barulah kita sampai di sana.
Jadi kalau kita lihat langit dimalam hari, sebenarnya kita bukan melihat langit yang sekarang aja. Tapi pada saat yang bersamaan kita sedang melihat langit sekarang, 8 tahun yang lalu, 100 tahun yg lalu, 1000 tahun yang lalu, 1juta tahun yang lalu, & bahkan 10 miliar tahun yang lalu.

Dan taukah bahwa matahari yang kita lihat setiap pagi itu adalah matahari 8 menit yang lalu? Kenapa seperti itu? Ya, karena sinar matahari membutuhkan waktu 8 menit untuk sampai ke bumi, yang berjarak 150 juta Kilometer (km). 
Jika memang si bintang berjarak 2,5 miliar tahun cahaya, dan dari cahaya yang kita terima sekarang disimpulkan usia bintang tersebut 2 miliar tahun (2,5 miliar tahun yang lalu), maka pada detik ini, usia bintang tersebut adalah 4,5 miliar tahun.
Jika bintang tersebut bersuhu 5800 Kelvin dan memiliki planet-planet dengan konfigurasi seperti planet di tata surya kita, maka ada kemungkinan besar, di salah satu planet bintang tersebut saat ini ada kehidupan mirip dengan di Bumi. Sayangnya akan sulit dibuktikan karena jika makhluk di sana mengirimkan sinyal ke Bumi kita, sinyal tersebut akan tiba 2,5 miliar tahun mendatang.

Sabtu, 29 September 2012

Perbedaan PACARAN, LDR, JOMBLO



Pacaran : kencan
LDR : telponan
Jomblo : ngaji
Pacaran : main lari-larian
LDR: main skype
Jomblo: main remi, digrebek, dipenjara
Pacaran = i want marry with you
LDR = i want beside you right know
Jomblo = i.. waak peyek.. i wak peyeek..
Pacaran : jalan bareng seharian
LDR : telepon seharian
Jomblo : gak mandi seharian
#bangun tidur
Pacaran = *sms* pgi beb, bngun dong :*
LDR = *telp* sayang met pagi
Jomblo = saya dimana! saya buta! *trnyt msh merem*
#malem minggu
Pacaran = makan berdua
LDR = makan sendiri2
Jomblo = makan ati liat mereka
#pas ujian
Pacaran = malah smsan
LDR = telponan
Jomblo = serius ngerjain
Pacaran = bales sms pacar
LDR = angkat telpon pacar
Jomblo = ngecek pulsa doang
Pacaran = dandan rapi mau kencan
LDR = dandan rapi mau ketemuan
Jomblo = dandan rapi mau seminar MLM
Pacaran = bikin janji
LDR = bikin komitmen
Jomblo = bikin onar, digebukin, mati
Pacaran = siapin pakaian buat kencan
LDR = siapin hape buat telponan
Jomblo = Siapin tambang buat�.. ah ga tega ngomongnya wkwkwkwkkw..
Pacaran = mesra-mesraan
LDR = kangen-kangenan
Jomblo= bunuh-bunuhan
Pacaran = sayang, makan di sini aja ya
LDR = sayang, met makan ya
Jomblo = Woooi nitip cendol dua
Pacaran = makan dimna kita beb?
LDR = *telepon* dah makan belum?
Jomblo = *ngedumel* makan hatii�gw makan hati liat lo pada!
#ditanya
Pacaran = pcrnya mna ? lagi kuliah
LDR = pcrnya mn? nih lagi tlpn
Jomblo = pcrnya mna? rahasia, rahasia apa? RAHASIA ILAHI
Pacaran = pura-pura ngambek
LDR = pura-pura cuek
Jomblo = pura-pura gila
Pacaran = sayang, ntar malem jalan yuk
LDR = sayang, aku kangen
Jomblo = sayang anak, sayang anak, sayang anak, #JualanBalon
Pacaran = pamer pacar ke temen
LDR = pamer foto pacar ke sodara
Jomblo = pamer foto Nabila JKT48. haahahahahahahaa
Pacaran = telfon pacar ah
LDR = telfon gebetan ah
Jomblo = telfon operator ah
Pacaran = meluk pacar
LDR = meluk guling
Jomblo= meluk hansip di pos ronda
Pacaran = liburan bareng
LDR = liburan ke rumah pacar
Jomblo = jadi calo tiket, ditangkep polisi, dipenjara
Pacaran = beb, jalan2 yuk aku yang traktir
LDR = beb ketemuan yuk ,dibayarin kok
Jomblo = Bro, traktir makan dong, bokek nih
Pacaran = beb, liat tuh bunga mawarnya
LDR = beb, disini aku liat bunga anggrek lho
Jomblo = foto2 sama bunga, bunga bangkai
Pacaran = sepiring berdua
LDR = sepiring masing2
Jomblo = sepiring gak abis2, ga doyan makan,
*BAJU*
Pacaran: tulisan I LOVE U
LDR: tulisan I MISS U
Jomblo: tulisan PARTAI NASDEM GERAKAN PERUBAHAN -§§- #JLEb
Pacaran : ngobrol sama pacar
LDR: chatting sama yayank
JOMBLO: ngomong sama tembok
#pas dikondangan
Pacaran: ini kenalin, pasangan gw sekarang
LDR: wah maaf pasangan gw ga bisa dateng
JOMBLO: trus trus, bales kiri, ya, op!. (jadi tukang parkir )
#pas berdoa
Pacaran: ya Tuhan, semoga cinta kami abadi
LDR: ya Tuhan, jagalah dia selalu
JOMBLO: ya Tuhan, semoga dia jodohku, kalau bukan jodohku masa Engkau tega banget sih
#malam minggu
Pacaran: mlm minggu dinyanyiin lagu
LDR : mlm minggu dibacain puisi
Jomblo :di kirim surat yassin
Pacaran: minum air kelapa bareng di cafe pinggir pantai pas sunset,,
LDR: ngirim pesan ngingetin momen wktu minum air kelapa di pantai
Jomblo :baygon mana baygon…
#mau nonton
Pacaran : nonton midnight yuk yank
LDR : pas kamu pulang kita nonton imax 3d yah yank
JoNes (jomblo ngenes) : mam, sinetron “putri yg di tukar” udah abis ya?
#lagi kangen
pacaran : pandang-pandangan berdua
LDR : pandang-pandangan via webcam
Jomblo : pandang-pandangan sama cermin *pacar lu mana woy
# lagi mancing
Pacaran : 1 alat pancing dipakai berdua
LDR : mancing sambil bayangin muka pacar
Jomblo : Nyebur ke kolam barangkali nemu putri duyung
#Maen Game Online
Pacaran : sayang, udah donk maennya !!!
LDR : (lg telp) beb, jangan lama2 yah maennya :*
Jomblo : Mas, udah 3 hari ente disini..
#Di Cafe
Pacaran : Say, romantis banget yah suasanya
LDR : Beb, ak lg ditempat kita jadian dulu
Jomblo : Mbak, nasi putih 1, gw udah bawa lauk sendiri
Pacaran = ya Tuhan aku sayang dia
LDR = ya Tuhan aku kangen dia
Jomblo = ya Tuhan aku kapan punya pacar ?
#Malem minggu hujan
Pacaran : yah hujan,bsk aj kita ya kluarnya
LDR : hujan, cancel dulu ya ketemunya
Jomblo : RASAIN !! pada ga bisa kluar. haha

Ibu itu (tidak) Sempurna



‘Kriiiinggg…’
Bel istirahat sekolah berbunyi. Sebagian anak berhambur keluar kelas. Satria, anak laki-laki yg duduk dikelas 2 SMA tak turut serta berhambur keluar kelas seperti teman-temannya . Ia masih menuntaskan soal-soal dibukunya. Coretan-coretan angka dikertas buramnya masih ia mainkan . Matematika bab ini membuatnya benar-benar penasaran.
“Istirahat dulu, Sat” kata laki-laki teman sebangkunya.
“Oh, iya. Kamu duluan aja, aku bawa makanan dari rumah kok,” Satria menoleh sebentar pada pemilik suara tadi, lalu kembali pada jajaran angka diatas mejanya .
“Oke, gue kekantin dulu, sob”
“Oke”
Satria meletakkan lembaran buramnya diantara buku-buku soal nya. Tangannya meraih bekal dilaci bangku.
‘Lupa gak bawa minum’ pikirnya .
Ia melangkah menuju kantin. Lalu langkahnya terhenti . Ia mendengar segerombolan anak laki-laki yang notabe nya paling dikagumi disekolah tampak nya sedang berseloroh dengan keras dengan tujuan tertentu.
“Eh, kemaren malem, gue sama Edo lihat ada bencong kena razia, bro!” kata Nino, anak yang selalu menjadi seorang yang paling berkuasa disana, tentang uang, tentang wanita, tentang teman-teman, mungkin tidak tentang akademi, murid yang paling dikagumi oleh murid-murid wanita disekolah.
“Iya, bener banget! Dan sepertinya, gue ada kenal sama salah satu bencongnya, bro!” sahut Edo.
“Gak salah lagi! Tuh bencong pasti ibunyaaaa……….” tambah Nino sambil melirik ditempat Satria berdiri.
Satria melangkah cepat kearah Nino dan melemparkan kepalan tangannya tepat di tulang pipi Nino, membuatnya jatuh oleng. Teman-teman Nino berusaha menghalangi, tapi dengan perlawanan seadanya tangan satria kesana-kemari membalas pukulan teman-teman Nino, lalu pukulannya kembali terfokus pada Nino. Keributan itu langsung menyita perhatian guru yang ada disekitar lokasi. Seorang guru laki-laki setengah baya berusaha melerai dibantu oleh satpam-satpam sekolah yang bertindak sigap.
“Lu udah berkali-kali menghina ibu gue, brengsek lu!” suara Satria yang begitu keras membuat puluhan murid yang ada disekitar terpaku . Satria yang pendiam kini terlihat jauh lebih menyeramkan dari preman jalanan.
“Udah-udah, sekarang bawa mereka keruang BP, pak” kata guru berperawakan angkatan laut itu kepada satpam-satpam.
“Kenapa kamu seperti it, Satria?” Tanya wanita cantik berusia dua puluh dua tahun yang berprofesi sebagai guru BP.
Satria diam saja. Tidak menjawab. Begitu pula murid yang lainnya. Beberapa guru yang ada disana mempunyai alibi yang sama dalam pikirannya, namun mereka hanya ingin mendengar langsung dari mereka yang bersangkutan.
“Saya sudah memanggil orang tua kalian untuk datang kesini, dan saya terpaksa membei skors pada kalian semua,” tambah wanita berkacamata dengan frame merah itu.

*

               Ruang tamu itu begitu hening. Rumah berukuran 7x9 meter itu benar-benar mendadak sunyi. Satria duduk tertunduk disofa lama ruang tamunya. Ibunya melangkah dari teras depan yang memajang lemari etalase kaca berisi makanan yg ia jual setiap hari, membawa segelas es teh ditangannya . Lalu duduk disebelah Satria yg masih tertuduk penuh penyesalan.
“Diminum, nak,” kata ibunya menyodorkan gelas dengan gambar logo kecap botolan.
Satria mengambil gelas es teh dari tangan ibunya, meminumnya sedikit, lalu meletakkan dimeja didepan tempatnya duduk.
“Kenapa kamu bisa seperti itu, Nak?” ibunya memandang lemah namun sorot matanya tajam menembus ruang-ruang mata Satria.
Satria berusaha menatap mata ibunya. Begitu kuat sinar mata ibunya untuk berusaha menutupi rasa lemah yang ada didalamnya. Tak kuat menahan sinar mata itu, Satria menunduk.

*

               Siang itu adalah acara pengumuman perlombaan Sains tingkat SMP negeri, Satria adalah perserta nya. Dan sebagai seorang ibu, aku harus datang untuk acara penting itu. Apapun hasilnya, Satria adalah anak yang selalu membuatku bangga. Satria mungkin sedang gugup, dan aku juga tak pernah segugup ini sebelumnya.
Juara II, dan III sudah diumumkan, dan itu jatuh ketangan anak lain. Satria benar-benar terlihat kehilangan semangat. Aku menatap sekitar, beberapa orangtua terlihat sama gugupnya denganku, beberapa yang lainnya terlihat patah semangat.
Suara Panitia lomba mengagetkan lamunan kilatku.
“Juara pertama, diraih oleh, ananda Satria Yanuar Pradana dari SMP Negri……………………” teriakan panita itu tak terdengar lagi olehku. Aku bersyukur ya Allah, engkau mengirimkan aak laki-laki ini kepadaku, ini adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Aku menangis pelan, bahagia, aku adalah orang paling bahagia disini. Semua riuh renyak tepuk tangan orang-orang seakan tak terdengar ditelingaku, begitu melambat hingga aku tersadar saat aku melihat Satria berdiri diatas panggung menyampaikan sebuah pidato singkat.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah kepada Allah SWT yang sudah memberi saya kesempatan untuk mengikuti lomba Sains dan berdiri disini untuk memegang piala Juara I. Terimakasih untuk Ibu saya, yang selalu mengingatkan saya untuk belajar, sholat, makan, tidur. Ibu saya adalah orang paling hebat dalam hidup saya, apapun yang orang-orang katakan tentang beliau, bagi saya, ibu saya adalah sang juara. Karena beliau lah yang selalu membantu saya sampai akhirnya saya dapat membawa pulang piala ini. Terimakasih ibu.
Aku bahagia, aku menangis, aku…aku tak tahu harus berkata apalagi. Aku ingin memeluknya diantara ratusan orang yang ada disini. Terimakasih ya Allah…

*

               Satria masih menunduk, tak kuasa untuk memberi penjelasan tentang alasan perkelahiannya disekolah tadi. Ibu nya memang kuat, namun hatinya benar-benar lembut.
“Kamu anak yang baik, Nak. Ibu tahu pasti ada suatu alasan yang membuatmu seperti ini,” kata ibunya dengan suara masih melemah.
Satria ingin menatap mata itu, ibu selalu memahami apa yang ada dalam pikirannya dengan bahasa matanya. Tapi ia benar-benar tak kuasa untuk menemukan mata itu kembali. Ia hanya bisa terdiam, dan saat itulah ia mulai menahan tangisnya.

*

               Satria berlari kecil kearahku. Tubuh mungilnya memakai baju gamis berwarna putih terlihat begitu menggemaskan. Pipinya yang merona menghiasa kulit putihnya.
“Ayo, pecinya dipakai,” kataku.
“Ibu antar Satria kan?”
“Iya,”
Anak ini masih kelas satu SD, tapi guru ngajinya sudah mengikut sertakan dia untuk lomba mengaji dikampung. Kemampuannya memang luar biasa dalam segala hal.
“Ibu pakai baju muslim, ya,”
Aku diam sejenak. Lalu mengangguk, lantas masuk kamar. Aku memandang baju muslim biru muda lengkap dengan jilbab putihnya yang tergantung dipintu lemari. Baju muslim pertamaku, itu masih baru aku beli, hanya untuk menghadiri acara lomba mengaji Satria.
“Ibu, ayo, nanti Satria telat,”
“Iya-iya, sabar, ya…” lantas ku buka pintu kamarku.
“Waaaahhh!!! Ibu cantik kalau pakai kerudung!” sinar mata Satria begitu takjub menatapku.
“Oiya?” tanyaku menggoda.
Satria mengangguk cepat, wajahnya begitu lugu. Keluguan itu membuktikan bahwa ia berucap jujur.
“Ibu pakai kerudung terus, ya, ibu cantik!” katanya lagi.
Aku terdiam. Siap kah aku? Ini bukan tentang sebuah kecantikan atau apapun, ini tentang hati. Aku menatap Satria, wajahnya begitu terang seperti malaikat. Mungkin saja dia memang malaikat yang dikirim Tuhan untukku.
“Ya, bu, ya?”
Ia masih menanti jawabanku. Aku masih terdiam emnatap wajah tak berdosa itu. Tanpa sadar aku mengangguk.
“Janji, bu?”
“Iyaaa… Ayo berangkat,”

*

               Satria mengusap air matanya yang terlanjur jatuh dipipi, lalu terisak. Ibunya memegang bahu Satria dengan lembut.
“Naaakkk, ceritakan saja apa yang terjadi…”
Satria masih tak kuat untuk bercerita. Dengan segala sisa kekuatan yang ada, mata basahnya menatap mata ibu nya, mengharapkan belas kasih agar ibunya paham tanpa ia bercerita. Ibu nya terdiam, menahan air mata yang keluar diambang kelopak matanya. Tangan besar ibunya menggenggam tangan Satria, berusaha member kekuatan kepada anaknya yang tampak melemah.

*

“Astaga, nih bayi apa sih mau nya, nangis terus! Dikssih susu juga udah nggak tidur-tidur!”. Aku menatap jengkel bayi umur satu mingguan yang menangis kasur kapuk yang sprei nya sudah sedikit kumal.
“Yuniiiii…” itu suara Susan.
“Masuk aja, Cyn!” teriakku gemulai dari kamar.
“Ya ampyun, Cyn! Udah gue bilang deh, lu taroh aja dipanti asuhan, susah banget, sih!”
“Panti asuhan moyang lu!” jawab gue sembari menggendong bayi laki-laki didepanku.
“Dari pada lu yang repooottt,” jawabnya
“Ssssttt… Diem, dia udah tidur nih!” kataku.
“Ya udah, cap-cus, Cyn!”
“Kayaknya gue hari ini nggak keluar dulu deh,”
“Haaaahhh??? Maksud loooo???”
“Iya, lu aja, bencong! Gue gak tega juga ninggalin dia sendirian,” kata ku sembari tersenyum memandangi bayi kecil yang mungil digendonganku.
“Ya udah deh, gue duluan, daadaaaahhh…” suara Susan lebih parah gemulainya dibanding aku.
Aku menatap kembali wajah mungil dalam gendonganku. Begitu tanpa dosa. Mungkin Tuhan mengirimkan makhluk tak berdosa ini agar aku berhenti berbuat dosa. Ya, mungkin saja. Tapi, entahlah…

               Siang itu Susan datang menangis padaku. Tangisnya tanpa ada yang dibuat-buat. Seperti sebagian dirinya yang lain keluar.
“Lu kenapa, Nek?”
Susan menyodorkan selembar kertas padaku. Ini apa? Aku bur4u-buru membacanya tanpa tanya. Ya, Tuhan! Ini Surat Keterangan Dokter yang menuliskan bahwa Susan positif HIV.
“Sabar ya, Cyn,” aku tak yahu harus berkata apa-apa lagi.
Susan masih menangis. Lalu dia menguatkan diri untuk berbicara.
“Tapi ini masih stadium awal, kata Dokter asal rajin terapi, jaga kondisi, dan minum obat, masih bisa disembuhkan,” katanya, lalu menangis lagi.
“Iya, syukurlah, tetep positif, Susan!” aku menggenggam punggung tangannya.
Tangan Susan ganti menggenggam tanganku.
“Kamu juga harus periksa, Yuni! Harus!”
Aku mengangguk cepat. Ya, aku juga harus segera periksakan diri. Sebelum semuanya terlambat.

               Dadaku berdegup kencang saat menerima surat dari laboratorium. Sesekali kulihat makhluk kecil yang ada digendonganku. Dia menatapku. Seolah-olah dia mengerti kecemasanku. Ku buka perlahan. Kertas ini terbuka, namun mataku masih tertutup. Ku kumpulkan seluruh kekuatanku untuk membuka mataku. Dan membaca apapun hasilnya itu.
Terimakasih, Tuhan!!! Aku baik-baik saja.
Aku menangis bahagia. Mungkin Tuhan benar-benar mengirim malaikat kecil ini agar aku berhenti dari kebiasaan-kebiasaan burukku. Dan Tuhan memberiku kesempatan untuk merawat bayi mungil ini. Ya, memang. Sudah saatnya aku berhenti! Aku akan menamakannya Satria. Dia adalah pahlawan kecilku.
Aku menyentuh hidungnya, bayi itu tersenyum, entah apa yang ia senyumkan. Kucium keningnya untuk pertama kali.

*

               Satria menatap tangan ibunya yang menggenggam tangannya. Seolah-olah member sedikit kekuatan dalam dirinya. Satria menguatkan diri untuk menatap mata ibunya kembali. Mata itu sedikit membasah, namun begitu hangat dan tentram didalamnya, begitu penuh dengan kasih yang setiap hari ia butuhkan. Bibir ibunya bergetar.
“Nak, apa ini tentang ibu?”
Suaranya begetar, begitu lemah, namun benarbenar menusuk jantung dan mencekat kerongkongan Satria. Ia tak menjawab, ia menangis dipangkuan ibunya.
“Maafkan aku, Nak,” kata ibunya menangis.
Satria bangkit dan menatap wajah ibunya. Sudah ada garis-garis keriput disana-sini, sudah banyak berubah yang ada dari bentuk ibunya. Tapi kasih sayangnya tak pernah berubah, mata damai itu, tangan hangat itu, rasa pada masakannya, omelan kecilnya, semua itu tidak berubah. Bahkan janjinya tidak pernah berubah untuk mengenakan kerudung.
“Ibu ceritakan kejadian sebenarnya saat ibu bertemu kamu, Satria,” kata-katanya bergetar digenangi oleh air mata yang keluar dimata lebar itu.
“Nggak perlu, Bu, Satria nggak pengen tahu,”.
Satria menarik nafas dalam-dalam. Memberi jeda untuk sidikit menenangkan fikirnya.
“Bu, apapun yang mereka bilang tentang ibu. Ibu adalah orang yang selalu jatuh bangun untuk mebesarkan Satria, ibu adalah orang yang tak pernah membiarkan Satria kelaparan, ibu adalah orang yang selalu ada disaat Satria butuh. Ibu memang bukan seorang ibu yang sempurna, tapi bagi Satria, semua yang ibu lakukan buat Satria menunjukkan bahwa ibu sudah cukup sempurna, nggak perlu untuk menjadi yang sempurna, cukup yang terbaik. Ibu orang yang terbaik buat aku,” Satria menangis, mencium tangan ibunya. Tangan yang membesarkannya seorang diri.

*

               Angin malam semakin menusuk, menunjukkan kekuatan dinginnya. Seorang gadis berdiri dipinggir jembatan. Menangis. Menggendong seorang bayi yang masih berumur hari.
“Eeeehhh… Neneeekkk!!! Lu mau ngapain berdiri disitu?” seorang banci berlari mendekati gadis berumur 19 tahunan itu.
Gadis itu masih menangis. Tak ada jawaban.
“Lu ditinggalin pacar lu? Gak tanggung jawab ya?” kata banci dengan tanktop merah dan rok pendek itu asal .
Gadis itu menoleh kearah banci brambut lurus itu. Lalu mengangguk.
“Ya, ampyuuunnn!!! Dasar cowok bisanya bikin, udah jadi gak tanggung jawab! Bencong deh!”
Gadis itu hanya menatap banci yang megoceh disebelahnya.
“Trus lu mau bunuh diri? Anak lu kagak tau apa-apa juga mau lu ajakin mati? Gila banget nih lampir! Udah, masalah kayak gini bisa diselesain, gak usah pake bunuh diri, Cyn!”
Gadis itu kembali menangis, tangisnya semakin meledak.
“Saya sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Orang tua saya sudah nggak mau menerima saya lagi,”
“Aduuuhhh… Udah, donk! Kan masih bisa dipikirin lagi jalan keluarnya, jangan keburu bunuh diri! Ntar gentayang loh! Hiii…Serem!!! Ayo, turun, sini gue bawain anak lu, terus lu turun, Okeeeyyy!”
Banci itu mengambil bayi laki-laki yang ada dalam gendongan gadis itu. Bayi yang sedari tadi menangis itu ditimangnya. Tangisnya sedikit mereda. Lantas ia menoleh kearah gadis itu. Sudah tak ada lagi. Gadis itu sudah terjun bebas. Meninggalkan bayi dalam gendongannya yang kelak akan menjadi malaikat kecil dalam hidupnya.

***